Thursday, January 22, 2009

Berguru kepada Empat Mata

TANYALAH kepada orang di sekeliling Anda, program televisi apa yang paling sering ditonton. Kemungkinan besar jawabannya "Empat Mata". Acara yang dibawakan oleh pelawak kelahiran Semarang itu, ternyata menduduki posisi kedua untuk rating acara talkshow televisi versi AGB Nielsen Media Research 2006.

Ketika melihat acara itu diiklankan, saya termasuk orang yang menertawakan konsep yang dibuat oleh TV7. Sebab, pemandu acara, Thukul Arwana memiliki citra fisik yang jauh dari kriteria camera face, intelektual yang berada di bawah garis rata-rata, dan performance yang ndeso.

Bandingkan dengan Farhan yang juga tampil di acara dengan format yang sama? Kelik Pelipur Lara yang mencuat di "Republik BBM", waktu saya undang ke Semarang secara bercanda juga sempat melontarkan keraguannya, "Talkshow untuk saingannya Om Farhan, kok milih Thukul, ya?"

Semua prediksi itu ternyata meleset jauh. Kini posisi acara yang diasuh Thukul itu mengungguli tiga tingkat di atas acara Farhan. Setiap menyaksikan acara tersebut saya mencoba mencari kelebihannya apa dan makna apa di balik semua itu.

Pertama, saya menemukan faktor keunggulan acara itu (dibandingkan dengan acara lain) ada pada pengasuhnya. Thukul adalah figur kali pertama di layar kaca yang dengan tulus dan ikhlas merelakan dirinya direndahkan serendah-rendahnya oleh orang lain di hadapan berjuta-juta manusia yang menyaksikannya.


Mental Selebritas

Sebagian tokoh-tokoh kita, selama ini jarang ada yang berani tampil dengan rendah hati. Semuanya ngomong ndakik-ndakik, tapi tahu-tahu kenyataannya membuat sebagian orang shock. Tampil dengan citra tampan (cantik), pintar, suci, tahu-tahu kedapatan selingkuh, poligami, atau korupsi.

Saya tidak ingin mengulas dari sisi konsep talkshow-nya, tetapi mencoba membuat satu renungan yang sangat sederhana dari hal yang sangat sederhana pula.
Marilah kita sejenak untuk tidak kemaki, mau berguru kepada Thukul Arwana yang ndeso, bodho, dan berwajah ueliik banget.

Selama ini sebagian masyarakat kita lebih suka berguru kepada ilmuwan-ilmuwan selebritas. Jadi jangan heran kalau kemudian muncul tokoh politik bermental selebritas, pemuka agama bermental selebritas, dan tokoh bisnis bermental selebritas.


Kemampuan Kolaborasi

Pada kuliah umumnya di Jakarta, pakar marketing Michael Porter menjelaskan bahwa yang membuat bangsa ini sulit melangkah keluar dari krisis yang berkepanjangan adalah hilangnya kemampuan berkolaborasi.

Pola pikir selebritas juga mendorong para tokoh itu menjadi lebih egosentris. Kasus pemberitaan yang keliru atas hilangnya pesawat AdamAir, hanyalah salah satu contoh bagaimana sebagian tokoh kita kehilangan kemampuan kolaborasinya.

Alam sebenarnya telah memberi sinyal kepada seluruh bangsa ini, baik mereka yang merasa menjadi hebat di bidang politik, ekonomi, maupun di bidang agama sekalipun, untuk mau berkolaborasi dengan sesamanya. Kolaborasi selalu mengandung unsur kesetaraan, empati, dan keinginan sukses bersama. Bayangkan ketika alam melakukan pembelajaran, semuanya diperlakukan sama, siapa pun Anda!


Memeluk Penderitaan

Sejarah membuktikan, tokoh-tokoh yang melegenda sepanjang masa senantiasa mau berguru kepada orang-orang hina dan orang-orang miskin.

Mohamad Yunus mungkin bisa menjadi salah satu contoh aktual masa kini, karena kepeduliannya kepada orang miskin dilakukannya secara total. Perjuangannya bukanlah PR baginya untuk mencapai penghargaan nobel seperti yang kita lihat beberapa waktu yang lalu. Keberhasilan yang diraih oleh Yunus bukanlah ilmu-ilmu yang pernah dimilikinya dalam dunia perbankan, karena untuk pengetahuan seperti itu pastilah banyak yang melebihinya.

Ketulusan dan keiklasannya untuk meningkatkan kualitas hidup orang miskin itulah, yang membuat para gelandangan tersebut tidak tega untuk ngemplang kebaikan yang sudah diberikan oleh Yunus. Ketulusan dan keiklasan kini menjadi barang langka di negeri ini.

Keiklasan, ketulusan, dan kolaborasi akan muncul manakala kita mau mendengar, melihat, dan memaknai penderitaan di sekeliling kita. Marilah berguru kepada orang-orang hina dan miskin. Berguru kepada empat mata, dua mata yang digunakan untuk melihat bentuk-bentuk fisik, dan dua mata berikutnya adalah mata hati yang akan memberikan makna untuk melahirkan
keiklasan dan ketulusan! Selamat belajar kepada wong cilik!

dipublikasikan di Suara Merdeka (Sabtu, 13 Januari 2007)

0 comments:

Post a Comment

 
© Copyright by Bayu Krisna Blog  |  Template by Blogspot tutorial