Thursday, January 22, 2009

Tidak Pernah Ada Titik

Bagi pelaku bisnis di Semarang tentu nama Bayu Krisna sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran Solo, 18 Nopember 1963 ini, sering tampil di acara-acara seminar ataupun pelatihan. Tidak hanya itu, pria yang menyelesaikan pendidikan SI Komunikasi dan S2 Magister Pemasaran Jasa ini juga menjadi pengajar di beberapa Perguruan Tinggi.

Berikut wawancara Ahmad Munif dari Simpang5 terhadap pria yang sering menjadi Trainer atau Motivator HRD – LQ (Listening Quotient) ini.

Anda sering tampil di muka publik sebagai moderator, motivator, bahkan juga enterpreneur, bisa diceritakan bagaimana awalnya?

Awalnya saya orang broadcast. Pertama kali pada 1989 saya gabung di groupnya radio El Shinta Jakarta. Pekerjaan sebagai announcer dan dubber (pengisi suara iklan), membuat saya sering diminta untuk menjadi pewawancara tokoh-tokoh bisnis nasional seperti Hermawan Kartajaya, Rhenald Kasali, Bob Sadino dll. Sambil bekerja, ternyata saya mendapatkan pengetahuan yang banyak sekali tentang bisnis. Mungkin dari sinilah saya mulai membuka karier saya, baik sebagai moderator, motivator, atau enterpreneur.

Jika disuruh memilih, sebenarnya bidang pekerjaan apa yang ingin Anda tekuni?

Saya sangat menyukai bidang mind management, yaitu kemampuan mengelola pikiran. Saya sangat mendapati fakta orang-orang sukses ternyata lebih banyak ditentukan oleh kekuatan pikirannya daripada ketrampilan dan pendidikan yang diperolehnya. Kemampuan mengelola pikiran membuat seseorang mampu menggerakkan energinya sendiri ketika ia dihajar oleh kegagalan dan ketidakpastian. Oh, ya dari bidang yang saya minati ini, saya sekarang juga dapat predikat baru lho, yaitu sebagai mind therapist. Sekarang saya lagi keliling di beberapa perusahaan buat mengobati pikiran-pikiran yang sakit, yang tidak produktif!

Posisi yang Anda perankan sekarang, mirip-mirip dengan posisi yang diperankan oleh Prie GS, bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Mas Prie itu sudah seperti kakak kandung saya. Setiap kali tampil, kenakalan dan kekurangajaran saya selalu diberi masukan. Kalau perannya mirip-mirip, ya itu hanya kebetulan saja, karena latar belakangnya jelas berbeda. Tetapi kalau warna pikiran saya, Mas Prie memang ikut memberikan polesan yang cukup kenthal.

Sebagai Motivator, Apa pendapat Anda tentang motivasi kerja bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Semarang?

Saya lebih suka berbicara soal kepercayaan alias belief yang ujung-ujungnya akan membentuk konsep diri seseorang. Konsep diri inilah yang akan menentukan konsistensi motivasi seseorang dalam menjalani aktifitasnya. Sayangnya, banyak sekali masyarakat kita yang belum tahu bagaimana membangun sebuah konsep diri yang bernilai. Sebuah aktifitas motivasi akan memberikan hasil yang permanen jika konsep diri orang yang dimotivasi sudah benar dulu!

Banyak sekali yang ingin menjadi enterpreneur, namun sering sekali kita dengar bahwa itu susah sekali, karena iklim tidak kondusif, peraturan tidak berpihak kepada pengusaha. Menurut Anda?

Menjadi enterpreneur bukan soal bagaimana ketrampilan dan pengetahuan yang Anda miliki, tapi bagaimana mental yang Anda miliki! Jika seseorang mencoba menjadi enterpreneur karena sensasi yang dibuat oleh seorang motivator, maka biasanya mereka akan berhenti semangatnya ketika ternyata jualan itu susah! Salah satu yang membentuk mental seseorang adalah konsep diri, yaitu cara pandang seseorang dalam melihat dirinya dan lingkungannya. Ketika konsep dirinya memang sudah mengatakan dia seorang enterpreneur, maka semua hambatan-hambatan yang Anda sebutkan tadi tidak akan pernah mampu menghentikan impiannya! Jadi untuk menjadi enterpreneur, enggak cukup cuma dilatih ketrampilan dan dimotivasi, tetapi harus dibangun konsep dirinya dulu!

Sebagai pribadi Anda tentu punya keinginan-keinginan, keinginan apa saja yang sudah tercapai dan yang belum tercapai?

Buat saya hidup ini tidak pernah ada titik, ia selalu koma, selalu sambung-menyambung dari satu pencapaian ke pencapaian berikutnya. Tapi kalau anda tanya keinginan apa yang masih ingin saya perjuangkan adalah keinginan mensosialisasikan konsep saya tentang Listening Quotient (LQ) alias kecerdasan mendengar. Konsep ini telah saya buat buku yang siap diterbitkan oleh Gramedia. LQ adalah tingkat kemauan dan kemampuan seseorang dalam mendengarkan suara dan keinginan orang lain baik yang disukai atau tidak disukainya dan juga suara hatinya. Bayangkan, betapa indahnya negeri ini jika orang tua mau mendengar suara anaknya, penguasa mau mendengar suara rakyatnya, orang kaya mau mendengar suara orang miskin. LQ adalah pembelajaran tentang rendah hati, tentang kemampuan seseorang dalam melihat apa yang dipikirkannya, bukan memikirkan apa yang dilihat!

0 comments:

Post a Comment

 
© Copyright by Bayu Krisna Blog  |  Template by Blogspot tutorial